Mutiara Hikmah

"Dan berpeganglah kamu semuanya dengan tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai." (QS. Ali Imran: 103)

"Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka." (Ar-Ruum: 31-32)

"Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung-jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat."
(Al-An'am: 159)

"Allah mensyari'atkan kepada kalian ajaran agama yang juga diwasiatkan kepada Nuh dan yang Kami wasiatkan kepadamu dan Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu agar kalian tegakkan agama dan janganlah berpecah belah di dalamnya." (QS. Asy Syura: 13)

"Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku."
(Al-Mu'minun: 52)

 

Info Bantuan Gempa

Info Dareliman
Info Dareliman
Ust M. Elvi Syam

Ust. Elvy Syam

Islamic Center

Fatwa Ulama

Kategori Konsultasi

Syndicate

Home
KUNCI KEBAHAGIAN SEORANG HAMBA PDF Cetak E-mail
Rabu, 22 Juli 2009
Setiap orang ingin bahagia dan berusaha untuk mencapainya dengan segala daya dan upayanya. Mereka bersusah payah siang dan malam tanpa kenal lelah hanya untuk mendapatkan kebahagiaan yang mereka cita-citakan tersebut. Namun betapa banyak orang yang menginginkannya, tetapi tidak dapat menggapainya dan betapa banyak orang yang telah lelah mencarinya, tetapi tak kunjung mendapatkannya, dan yang lebih menyedihkan lagi; banyak orang mencari dan berusaha mendefinisikan kebahagiaan namun ia sendiri adalah orang yang paling bodoh dan jauh dari kebahagiaan. Juga ada yang menganggap dirinya telah mendapatkan kebahagiaan tersebut, padahal itu hanyalah kebinasaan dan kesengsaraannya di dunia apalagi di akhirat nanti. Memang cukup ironis, tapi itulah realita yang ada dan tidak bisa untuk kita pungkiri.


Syariat sebagai Petunjuk Ilahi Menuju Kebahagiaan Hakiki


   Allah Subhanahu wa Ta'aala mengutus para Rasul untuk menyampaikan syariat-Nya, agar menjadi hujjah bagi semua makhluk-Nya dan menutupnya dengan mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Rasul yang menerangi manusia dengan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta'aala dan mengeluarkan mereka dari kegelapan, membawa kepada jalan yang lurus. Demikianlah ketetapan Allah Subhanahu wa Ta'aala; menunjuki manusia, sehingga mendapatkan keridhaan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'aala berfirman: "Kami berfirman, "Turunlah kamu semua dari Surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. Al Baqarah/2: 38)

   Petunjuk disini bermakna Rasul dan kitab suci (Taisir Karimirrahman hal. 32). Petunjuk ini merupakan sumber kebahagiaan dan kejayaan umat yang menghilangkan kebodohan dan membawa keselamatan. Hal ini didukung juga dengan tujuan penciptaan manusia yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'aala, sebagaimana firman-Nya: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS. Adz-Dzariat/51: 56)

   Sehingga kunci sukses seseorang ada pada ibadah dan bukan selainnya, sebab dikatakan sukses apabila bisa merealisasikan suatu tujuan. Suksesnya manusia tentunya dengan terwujudnya peribadatan yang total dan sempurna kepada Allah Subhanahu wa Ta'aala dalam diri manusia tersebut. Oleh karena itu, kita semua membaca dan mendengar minimal dalam sehari 17 kali pernyataan kita: "Iyyaka na'budu Wa Iyyaka nasta'iin" {Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan}(QS. Al Fatihah/1: 5)

   Padahal untuk merealisasikan pernyataan tersebut harus dengan mengenal syariat yang Allah Subhanahu wa Ta'aala turunkan kepada para Rasul yang merupakan jalan menuju kesuksesan. Dengan demikian, akhirnya kitapun diperintahkan untuk memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'aala juga minimal 17 kali dalam sehari dengan mengucapkan: "Ihdinashshirothol Mustaqim" {Tunjukilah kami jalan yang lurus} (QS. Al-Fatihah/1: 6) 


Jalan yang Benar dalam Memahami Agama

   Memang kesuksesan dan kebahagiaan kita berporos pada ibadah dan beragama dengan benar. Namun jalan manakah yang harus kita tempuh? Karena begitu banyak jalan terpampang di hadapan kita dan semuanya mengaku benar padahal kebenaran hanyalah satu. Oleh sebab itu, kita diperintahkan untuk memohon ditunjuki kepada jalan yang lurus. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menggambarkan hal ini dalam hadits yang beliau, yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: "Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Lalu beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggaris satu garisan dan menggaris dua garis di samping kanannya dan menggaris dua garis disamping kirinya. Kemudian meletakkan tangannya pada garis yang ditengah, lalu berkata: Inilah jalan Allah Subhanahu wa Ta'aala, kemudian membacakan: "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa." (QS. Al An'aam: 153)

   Lalu apa jalan yang lurus tersebut? Untuk menjawabnya, kita cukup melanjutkan ayat dalam surat Al Fatihah yaitu: "(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS. Al Fatihah/1: 7)

   Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta'aala menjelaskan jalan yang lurus adalah jalan orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta'aala anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan yang Allah Subhanahu wa Ta'aala murkai dan sesatkan. Lalu siapakah orang yang Allah ‘Azza wa Jalla anugerahi nikmat tersebut? Jawabnya ada pada firman Allah ‘Azza wa Jalla: "Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (QS. An Nisaa: 69)

   Orang yang dianugerahi nikmat tersebut adalah para nabi, shiddiq, syuhada dan shalihin. Sedangkan orang yang bersama mereka adalah orang yang menaati Allah dan menaati Rasul-Nya.

   Dengan demikian kunci kebahagiaan hamba ada pada sikap mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang merupakan jalan yang lurus yang senantiasa kita mohonkan di dalam sholat kita. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata; "Tidak ada kebahagiaan dan keselamatan di hari akhirat, kecuali dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdasarkan firman-Nya: "Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuanNya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan." (QS. An-Nisa': 13-14)

   Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah poros kebahagiaan dan tempat keselamatan yang pasti, karena Allah telah menciptakan makhluk-Nya untuk ibadah. Sebagaimana firman-Nya, yang artinya: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS. Adz Dzariyaat: 56)

   Ibadah itu hanyalah mentaati Allah dan mentaati rasul-Nya, maka tidak ada peribadatan dalam agama Islam kecuali kewajiban atau sunnah. Selainnya adalah kesesatan dari jalan Allah Subhanahu wa Ta'aala. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: "Barang siapa yang beramal satu amalan yang tiada ada padanya perintah kami maka amalan itu tertolak." (HR. Muslim)

   Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Irbadh bin Saariyah radhiyallahu ‘anhu: "Sesungguhnya barangsiapa dari kalian hidup setelahku, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafa'u rasyidin lagi mahdiyiin (memberi petunjuk). Berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Berhati-hatilah dari perkara yang dibuat-buat (baru) karena setiap kebid'ahan adalah sesat." (HR. Ash haabu Sunan dan dishohihkan At Tirmidzi)

   Demikian juga dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim rahimahullah dan yang lainnya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam khuthbahnya: "Sebaik-baik perkataan adalah Kalamullah dan sebaik-baik contoh teladan adalah contoh teladan Muhammad. Sejelek-jelek perkara adalah yang dibuat-buat dan setiap bid'ah adalah kesesatan." (Majmu' Fatawa 1/4).

   Kunci kebahagiaan dunia dan akhirat terletak pada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jiwa kita lebih butuh mengenal ajaran dan taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam daripada kebutuhannya kepada makan dan minum. Sehingga sepatutnya bagi kita semua untuk mengenalnya dengan mempelajari Al Quran dan Sunnah, yang telah diriwayatkan dan dinukilkan para ulama sejak zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hingga sekarang dan sampai hari kiamat nanti. Karena tidak cukup dengan hanya mengandalkan akal dalam mengenal ajaran beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, akal hanya alat membantu untuk memahami agama. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berhasil dalam dakwahnya, bahkan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah membina generasi yang kuat dan tangguh, yaitu generasi para sahabat ridwaanullahi ‘alaihim ajma'in, bahkan generasi yang beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam didik merupakan generasi terbaik dan generasi yang mendapatkan pujian, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: "Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya. (Kemudian Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu perawi hadits-mengatakan, "Aku tidak tahu, apakah beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakannya dua atau tiga kali setelah generasi beliau). Kemudian setelah itu akan ada kaum yang memberikan persaksian padahal mereka tidak diminta memberikan persaksian, mereka berkhianat sehingga tidak bisa dipercaya, mereka bernazar tapi tidak dipenuhi dan muncul pada mereka obesitas (kegemukan)." (HR. Al Bukhari, 2651 dan Muslim, 2535)

   Hal ini pun diakui Allah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam firman-Nya: "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia..." (QS. Ali Imran: 110) 


Jalan Kebenaran Ketika Timbul Perselisihan yang Banyak

   Telah dimaklumi kewajiban kita untuk mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, namun bagaimana sikap kita ketika bermunculan banyak perselisihan di kalangan kaum muslimin yang sudah menjadi sunnatullah dan telah kita saksikan pada hari ini dengan kedua mata kita. Islam sebagai agama yang diturunkan dari Allah Subhanahu wa Ta'aala dan sudah disempurnakan Allah Subhanahu wa Ta'aala dalam firman-Nya: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu." (QS. Al Maidah: 3)

   Tentunya kita harus memiliki petunjuk dan penjelas bagaimana bersikap dalam permasalahan ini (ketika terjadi perselisihan yang banyak di kalangan kaum muslimin). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan penjelasan tentang hal ini dalam beberapa hadits, dan kita bisa ringkas dalam beberapa poin berikut:

   Pertama, berpegang teguh kepada ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan pemahaman para sahabatnya.

   Ini dijelaskan dalam sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dalam hadist Irbadh bin Saariyah radhiyallahu ‘anhu, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: "Barang siapa yang masih hidup dari kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah kepada Sunnahku dan Sunnah para kholifah Rasyidin yang memberi petunjuk, berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah ia (sunnah tersebut) dengan gigi geraham kalian. Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang baru (yang diada-adakan) karena hal itu adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat."

   Kedua, mengikuti imam (khalifah) kaum muslimin apabila ada, dan menjauhi kelompok-kelompok yang bermunculan setelah kehilangan imam kaum muslimin dan negara kekhilafahan. Tapi dengan senantiasa mengamalkan langkah pertama.

   Hal ini dijelaskan dalam sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dari Hudzaifah bin Al Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Orang-orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kebaikan sedangkan aku bertanya kepadanya tentang keburukan karena takut jangan-jangan menimpaku, maka aku bertanya: Wahai Rasululloh, kami dahulu berada di zaman jahiliyah dan keburukan, lalu Allah Subhanahu wa Ta'aala memberikan kami kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini ada keburukan? Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: "Ya", aku (Hudzaifah bin Al Yaman) bertanya: Dan apakah setelah keburukan itu ada kebaikan? Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: "Ya", dan ada padanya kabut (dakhon), aku bertanya lagi: Apa kabut (dakhon) tersebut, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: "Satu kaum yang mengikuti contoh teladan selain sunnahku, dan mengambil petunjuk selain petunjukku, kamu menganggap baik dari mereka dan kamupun mengingkarinya, aku bertanya lagi: Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan lagi, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: "Ya, para dai yang mengajak ke pintu-pintu neraka (jahanam), barang siapa yang menerima ajakan mereka, niscaya mereka dijerumuskan ke dalam neraka. Aku bertanya lagi: Wahai Rasulullah, khabarkan kepada kami sifat-sifat mereka? Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: Mereka dari kaum kita dan berbicara dengan bahasa kita. Aku bertanya lagi: Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya?, Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: "Berpegang teguhlah pada jama'ah muslimin dan imamnya!" aku bertanya lagi: Bagaimana jika tidak ada jama'ah maupun imam? Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: Hindarilah semua kelompok-kelompok itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga kematian menjemputmu dalam keadaan seperti itu." (HR. Bukhari, 6/615-616 dalam Fathul Bari dan Muslim, 1847)

   Demikianlah kami mengajak saudara sekalian untuk kembali mempelajari ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang telah dipahami langsung para sahabat yang sudah mendapat jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta'aala. Siapa yang sama dengan mereka dalam iman dan amal, maka mendapatkan petunjuk, seperti dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'aala: "Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk..." (QS. Baqarah/2: 137)

   "Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min (para shahabat), Kami biarkan ia leluasa dalam kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk buruknya tempat kembali." (QS. An-Nisaa'/4: 115)

Demikianlah semoga bermanfaat dan menjadi pintu bagi kita dalam meraih jalan kebenaran. Wallahu A'lam Bisshawab.

Faishal Abdurrahman, Lc

Beri Komentar
  • Mohon untuk TIDAK memalsukan NAMA dan IDENTITAS.
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Homepage
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:

I wish being prevented by email of the comments which will follow




Tulis Komentar
RSS comments

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6
AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com
All right reserved

 
Berikutnya >


Komentar Terbaru

Buku Tamu
ahlussunnah ..... merdeka
Di Tanggapi
Oleh yori

Buku Tamu
Bagaimana, kalau Yayasan Darel...
Di Tanggapi
Oleh Palakhi

Salurkan Donasi Anda
ana kirim 100rb ke rekening BN...
Di Tanggapi
Oleh abdullah

SEBAB-SEBAB KEHANCURAN
ana sangat sepakat sekali ana...
Di Tanggapi
Oleh meki

SEBAB-SEBAB KEHANCURAN
ana izin copy paste boleh?
Di Tanggapi
Oleh ibnu ali

Pengunjung

Saat ini ada 8 tamu online
Total Pengunjung72816

Konsultasi Islam

Konsultasi : Telat melaksanakan Sholat disebabkan pekerjaan dan hati yang terfitnah

Kamis, 19 Juni 2008

Pertanyaan : Assalammu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh Ustadz. 1. Saya seorang karyawan toko, karena pekerjaan, saya sering terlambat menunaikan shalat, saya sering shalat zuhur jam 2,...
Selengkapnya

Konsultasi Lainnya
Free Joomla Templates