ArtikelKesehatan

Bahaya Mempercayai Teori Konspirasi dalam Masalah Kesehatan

Teori konspirasi itu semacam teori yang berusaha menjelaskan bahwa kemungkinan penyebab dari suatu peristiwa adalah “rahasia”, atau direncanakan secara diam-diam oleh sekelompok orang yang memiliki pengaruh dan kekuasaan untuk membahayakan kelompok lainnya (minoritas). Ini definisi yang paling mendekati dari teori konspirasi, karena memang belum ada definisi baku secara ilmiah. Teori konspirasi ini umumnya muncul dari misinformasi atau berita palsu yang tersebar di masyarakat. Sehingga kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Contohnya, sebagian orang percaya bahwa virus HIV itu tidak ada, dan tidak menyebabkan AIDS. Pemanasan global (global warming) itu hanya “tipu-tipuan” semata. Vaksin atau makanan yang dimodifikasi secara genetik itu tidak aman, dan sederet kepercayaan konspirasi lainnya. 

Dalam artikel singkat ini, kami akan menyebutkan tiga contoh teori konspirasi yang menyasar bidang kesehatan, dan dampaknya baik secara individu, komunitas maupun dalam skala yang lebih luas yaitu skala negara.

Percaya dengan teori konspirasi dalam masalah vaksin

Teori konspirasi merupakan salah satu argumentasi yang sering dikemukakan oleh sebagian orang yang menolak vaksinasi (gerakan anti-vaksin atau anti-vaccine movement). Tidak hanya oleh para penolak vaksin di dalam negeri (Indonesia), tetapi juga di luar negeri. Kondisi ini pun sama, baik di negeri non-muslim maupun di negeri muslim, sebagian dari mereka sangat percaya adanya konspirasi ini. 

Suatu penelitian yang menganalisis website-website anti-vaksin di luar negeri bahkan menemukan suatu fenomena bahwa teori konspirasi ini merupakan salah satu bahan utama mengkampanyekan pemikiran mereka. Bagi mereka, “informasi sebenarnya” tentang apa itu vaksin dan kandungannya telah “disembunyikan” oleh pihak berwenang. Oleh karena itu, mereka tidak percaya lagi dengan badan-badan kesehatan resmi di dunia, semacam WHO, CDC, FDA, atau kalau di dalam negeri, mereka tidak percaya dengan Kementerian Kesehatan dan Badan POM. 

Mereka percaya bahwa vaksin hanya semata-mata dibuat dan diprogramkan untuk mencari untung (profit dan bisnis), atau hanya akal-akalan dokter (tenaga kesehatan) dan perusahaan vaksin. Selain itu, jika ada reaksi efek samping vaksin (KIPI), maka yang diuntungkan tetap saja dokter. Sebagian lagi percaya bahwa vaksin itu sama dengan racun dan sengaja disusupi virus HIV.

Jangan heran jika ada dokter yang menolak vaksinasi, para penggemar teori konspirasi vaksin akan mendukung dokter tersebut, menyebutnya sebagai “dokter pemberani” dan “penyuara kebenaran”. Sebagian lagi percaya bahwa vaksin adalah sengaja dibuat untuk membuat menjadi mandul (infertil), dan seterusnya.

Lalu, apa bahaya mempercayai teori konspirasi vaksin?

Kita jumpai adanya penurunan cakupan vaksinasi di daerah-daerah yang angka penolakan vaksin semakin tinggi. Sekali lagi, konspirasi ini adalah masalah umum di semua negara, tidak hanya di negara muslim. Jadilah saat ini, dengan adanya penurunan cakupan angka vaksinasi, di sebagian negara tersebut terjadi wabah atau peningkatan kasus penyakit akibat penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan vaksinasi. Misalnya, wabah campak yang sempat melanda Amerika dan negara-negara di Eropa akibat penurunan cakupan vaksinasi campak. Kondisi ini tentu saja memprihatinkan, seolah kita dipaksa kembali lagi ke era sebelum ditemukannya vaksin, di mana wabah terjadi di mana-mana. 

Dalam skala nasional, teori konspirasi vaksin pernah melanda Nigeria, di mana pemerintah di sana percaya bahwa vaksin polio sengaja disusupi oleh virus HIV dan hormon penyebab kemandulan. Sehingga mereka pun sempat menghentikan program vaksinasi polio nasional pada akhir tahun 2003. Akibatnya, Nigeria saat itu menjadi salah satu dari tiga negara yang paling banyak melaporkan penderita polio, ketika banyak negara lain di dunia sudah bebas dari infeksi virus polio.

Percaya dengan teori konspirasi dalam masalah HIV/AIDS

Virus HIV dan juga penyakit yang ditimbulkannya (yaitu AIDS) telah lama menjadi sasaran dari teori konspirasi. Sebagian orang menganggap bahwa virus HIV/AIDS itu tidak ada, virus HIV/AIDS “sengaja diciptakan” untuk tujuan tertentu. Lebih dari itu, mereka percaya bahwa obat-obatan untuk HIV (dikenal dalam istilah medis dengan anti-retroviral therapy atau ART), itu hanyalah “racun” yang sengaja dimasukkan ke dalam tubuh.

Di Amerika Serikat, sentimen ini makin parah dengan adanya isu rasisme. Sebagian orang berkulit hitam percaya bahwa virus HIV ini adalah ciptaan pemerintah federal AS atau CIA untuk mengurangi populasi mereka di AS. Kelompok lain yang merasa minoritas, yaitu mereka yang memiliki orientasi seksual gay, mereka percaya bahwa virus HIV memang sengaja diciptakan untuk “membunuh” mereka. 

Dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat, sebagian penduduk AS keturunan Afrika percaya bahwa obat untuk HIV itu sebenarnya sudah ada, tetapi “disembunyikan” terutama untuk orang miskin. Obat medis untuk HIV saat ini sebenarnya menyebabkan HIV itu sendiri. Orang yang mau menjalani pengobatan HIV itu ibarat kelinci percobaan pemerintah. 

Lalu, apa bahaya mempercayai teori konspirasi dalam masalah HIV/AIDS?

Di komunitas-komunitas berisiko tinggi HIV/AIDS (misalnya yang memiliki perilaku seksual berisiko) namun mereka termakan oleh isu-isu teori konspirasi, menyebabkan keengganan mereka untuk melakukan tes HIV (apakah mereka positif ataukah tidak), karena mereka percaya kalau HIV itu tidak ada. Mereka juga tidak mau melakukan pencegahan agar tidak terinfeksi virus HIV. Ini bahaya mempercayai teori konspirasi dalam skala individu (komunitas).

Dalam skala nasional (negara), pemerintah Afrika Selatan di bawah Presiden Thabo Mbeki pun percaya dengan isu-isu konspirasi HIV ini. Padahal, Afrika Selatan adalah salah satu negara yang paling parah terkena wabah HIV di dunia ketika itu.

Akibat pengaruh isu konspirasi, pemerintah Afrika Selatan kemudian tidak menyediakan obat-obat HIV standar secara medis (ART) kepada rakyatnya. Dia justru percaya bahwa vitamin, jus lemon, dan bawang putih sebagai obat alternatif untuk HIV; dan menolak dana bantuan internasional untuk mengatasi wabah HIV di negaranya. Selama kurun waktu tahun 2000-2005, diperkirakan lebih dari 330.000 warga Afrika Selatan meninggal akibat HIV/AIDS dan lebih dari 35.000 bayi baru lahir terinfeksi virus HIV. Padahal, kalau ibu hamil mendapatkan obat ART standar, hal itu akan meminimalisir kemungkinan penularan ke janin yang dikandung.

Percaya dengan teori konspirasi dalam masalah pandemi COVID-19

Di masa pandemi COVID-19 ini, sebagian orang, termasuk di Indonesia, lagi-lagi termakan oleh teori konspirasi. Mereka percaya bahwa sebetulnya virus SARS-CoV-2 (penyebab penyakit COVID-19) itu adalah buatan pemerintah Cina untuk kepentingan bisnis, politik, dan ekonomi. Lalu sebagian lagi percaya bahwa virus SARS-CoV-2 itu tidak ada, atau penyakitnya hanya ringan dan bisa sembuh sendiri.

Sebagian lagi memfitnah tenaga medis dengan mengatakan bahwa pandemi COVID-19 ini hanyalah akal-akalan tenaga medis untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dari setiap penderita yang dirawat. Mereka akan mendapatkan uang sekian juta dari setiap pasien “yang dipaksa dicatat sebagai pasien COVID-19”. 

Lalu, apa bahaya mempercayai teori konspirasi dalam masalah COVID-19?

Dampaknya bisa kita lihat bahwa merasa “mendapatkan rasa aman palsu” (false sense security). Akhirnya, mereka pun membahayakan orang-orang di sekitarnya karena mereka tidak mau melakukan tindakan pencegahan seperti memakai masker, meminimalisir aktivitas keluar rumah, menghindari kerumuman massa, dan sebagainya. Sebagian lagi menolak upaya tes, baik dengan rapid test maupun swab PCR. Dampaknya pun bisa kita lihat, yaitu upaya pengendalian pandemi ini yang makin sulit.

Kesimpulan

Teori konspirasi ini pada dasarnya mudah untuk dibuat dan disebarkan, namun sangat sulit dibendung, apalagi pada jaman internet dan media sosial yang semakin luas penggunaannya saat ini. Mempercayai teori konspirasi dalam masalah kesehatan ternyata berdampak negatif terhadap upaya pengendalian, pencegahan dan pengobatan suatu penyakit.

@Rumah Kasongan, 22 Syawal 1441/ 14 Juni 2020

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Referensi:

Andersen KG, Rambaut A, Lipkin WI, Holmes EC, Garry RF. The proximal origin of SARS-CoV-2. Nat Med 2020; 26(4): 450-452.

Bogart LM dan Thorburn S. Are HIV/AIDS conspiracy beliefs a barrier to HIV prevention among Africans Americans? J Acquir Immune Defic Syndr 2005; 38(2): 213-218.

Bogart, et al. Endorsement of a genocidal HIV conspiracy as a barrier to HIV testing in South Africa. J Acquir Immune Defic Syndr 2008; 49(1): 115-116.

Goertzel T. Conspiracy theories in science. EMBO Reports 2010; 11(7): 493-499.

Goncalves-Sa J. In the fight against the new coronavirus outbreak, we must also struggle with human bias. Nat Med 2020; 26(3): 305.

Jolley D, Douglas KM. The effects of anti-vaccine conspiracy theories on vaccination intentions. PLoS One 2014; 9(2): e89177.

Kata A. A postmodern Pandora’s box: anti-vaccination misinformation on the internet. Vaccine 2010; 28(7): 1709-1716.

Kata A. Anti-vaccine activists, Web 2.0, and the postmodern paradigm-an overview of tactics and tropes used online by the anti-vaccination movement. Vaccine 2012; 30(25): 3778-3789.

Mian A, Khan S. Coronavirus: the spread of misinformation. BMC Med 2020; 18(1): 89.

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Loading
Close