Sebab yang paling besar adalah do’a

waktu baca 5 menit
Jumat, 27 Jun 2025 17:53 0 277 admin

Izinkan Kami Berbagi
Semoga penulis dan pembaca mendapatkan manfaat darinya

Tema : Sebab yang paling besar adalah do’a

Temukan rahasia perkataan Ibnu Qoyyim berikut

 فإن هذا الدعاء لا يكاد يرد أبدا.

”Sesungguhnya doa yang seperti ini, hampir-hampir tidak pernah tertolak.”

Sebuah faedah yang begitu dalam yang kami temukan dalam kitab (الداء والدواء) penyakit dan obatnya karangan Al imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam bagaimana kita bermuamalah dengan Sang Khaliq yang mengatur seluruh alam semesta ini dalam hal kita menginginkan angan-angan dan cita-cita kita dalam kehidupan dunia dan akhirat dapat terwujud.

Boleh jadi sebagian orang-orang yang berangan-angan dan bercita-cita tersebut tidak atau belum mendapatkan rahasia ini, maka kami berharap mendapatkan bagian pahala bagi siapa yang mendapatkan faedah lantas mengamalkan dan menyampaikan kepada yang lainnya, sebab seorang mukmin menginginkan kebaikan untuk orang lain sebagai mana dia menginginkan kebaikan untuk dirinya.

Ibnul Qoyyim rahimuahullah menukil sebuah nazhom :

 قال الناظم
 لَوْ لَمْ تريد نيل ما أرجو وأطلبه
 من جود كفَّيك ما عودتني الطلبا

Seorang penazhom berkata :
> Andai Engkau tidak menakdirkan tercapainya harapanku dan apa yang ku pinta, Namun kemurahan-Mu telah membiasakanku untuk terus meminta.”

Beliau Rahimahullah mengatakan :

 أن هذا المقدور قدر بأسباب، ومن أسبابه : الدعاء، فلم يقدر مجردا عن سببه ، ولكن قدر بسببه، فمتى أتى العبد بتسبب وقع المقدور، ومتى لم يأت بالسبب انتفى المقدور

Sesungguhnya takdir itu ditetapkan bersama sebab-sebabnya. Dan salah satu sebab terbesar dari takdir adalah doa.Maka tidaklah suatu takdir itu ditetapkan dalam keadaan terlepas dari sebabnya, namun ia digariskan bersama sebabnya. Apabila seorang hamba menempuh sebab, maka takdir itu pun akan terwujud. Dan bila ia berpaling dari sebab, maka tertundalah takdir yang ditetapkan.

 وكان عمر بن الخطاب رضي الله عنه يستنصر به على عدوه، وكان أعظم جنده، وكان يقول لأصحابه : لستم تنصرون بكثرة، وإنما تنصرون من السماء. وكان يقول : إني لا أحمل هم الإجابة، ولكن هم الدعاء، فإذا ألهمت الدعاء فإن الإجابة معه

Umar bin al-Khattab – semoga Allah meridhainya – dahulu menjadikan doa sebagai senjata dalam menghadapi musuh. Ia menganggap doa sebagai pasukan terkuatnya.
Ia biasa berkata kepada para sahabatnya:
“Kalian tidaklah ditolong karena jumlah yang banyak, tapi karena pertolongan dari langit.”
Dan ia juga berkata:
“Aku tidak terlalu mengkhawatirkan apakah doaku dikabulkan atau tidak. Yang aku khawatirkan adalah apakah aku bisa terus berdoa. Jika aku telah diberi ilham untuk berdoa, maka jawaban itu akan menyertainya.”

 فمن ألهم الدعاء فقد أريد به الإجابة، فإن الله سبحانه يقول : ادعوني أستجب لكم (غافر : ٦٠) وقال : وإذا سألك عباد عني فإني قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان (البقرة : ١٨٦) وفير سنن ابن ماجة من حديث أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من لم يسأل الله يغضب عليه.

Maka siapa yang diberi ilham untuk berdoa, berarti ia sedang diarahkan menuju jawaban doa.
Karena Allah Ta’ala telah berfirman:
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan untuk kalian.” (QS. Ghafir: 60)
Dan firman-Nya:
“Jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Jika seorang berdoa dengan memperhatikan hal-hal berikut maka do’a tersebut seakan tidak akan pernah tertolak dan hampir saja akan terwujud :

1. Merengek dalam berdo’a

Allah Robb al ‘alamin adalah zat yang tempat bergantung segala sesuatu (diantara nama Allah الصمد) yang jika diminta maka semakin cinta kepada yang meminta , berbeda dengan makhluk jika terus dimintai maka dia akan bosan dan marah, maka tidak ada alasan untuk selalu meminta kepada Allah dan merengek kepada-Nya, bahkan jika engkau melihat ada orang yang sangat dalam rengekannya kepada Allah maka dialah orang yang paling dekat keterkabulan do’a nya.
Rasulullah sholalllahu alaihi wa sallam bersabda :

 وفي سنن ابن ماجة من حديث أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من لم يسأل الله يغضب عليه.

Dalam Sunan Ibn Majah dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa tidak meminta kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.”

 وفي كتاب الزهد للإمام أحمد عن قتادة: قال مورق: ما وجدت للمؤمن مثلا إلا رجلا في البحر على خشبة، فهو يدعو: يا رب، يا رب، لعل الله عزّ وجل أن ينجيه.

Dalam Kitab az-Zuhd karya Imam Ahmad, dari Qatadah, dari Mubarraq rahimahullah, beliau berkata:
“Aku tidak mendapati perumpamaan orang beriman kecuali seperti seorang laki-laki yang terombang-ambing di lautan, berpegang pada sepotong kayu, lalu ia terus berdoa: ‘Wahai Rabbku… wahai Rabbku…’ semoga Allah ‘Azza wa Jalla menyelamatkannya.”

2. Tidak tergesah-gesah dalam menunggu keterkabulan doa

Hal inilah yang paling banyak menyebabkan seseorang tidak melihat pengaruh dari doanya yakni berhenti meminta kepada Allah setelah merasa sudah banyak berdoa, ingatlah bahwa doa itu sendiri adalah ibadah yang sangat agung dan Allah menginginkan hambanya untuk selalu melakukannya, kita tidak melihat ada sebuah ibadah yang di dalamnya tidak terkandung di dalam doa melainkan penuh dengan doa.

Pahami kaidah ini Doa adalah ibadah yang agung, dikabulkan dengan segera atau tidak engkau sudah mendapatkan pahala dari berdoa tersebut

Ibnu Qoyyim mengatakan :

 ومن الآفات التي تمنع ترتب أثر الدعاء عليه : أن يستعجل العبد، ويستبطئ الإجابة فيستحسر ويدع الدعاء، وهو بمنزلة من بذر بذرا أو غرس غرسا فجعل يتعاهده ويسقيه فلما استبطأ كماله وإدراكه تركه وأهمله.

Di antara penghalang terkabulnya doa adalah: tergesa-gesa dalam menuntut jawaban. Seorang hamba merasa lambat terkabul, lalu ia pun lemah dan meninggalkan doa.
Ini seperti orang yang menanam benih atau menumbuhkan pohon, lalu ia merawat dan menyiraminya, namun ketika ia merasa buahnya lambat matang, ia pun meninggalkannya dan tak lagi merawatnya.

 وفي صحيح مسلم عنه : لا يزال يستجاب للعبد ما لم يدع بإثم أو قطيعة رحم، ما لم يستعجل، قيل : يا رسول الله ما الاستعجال ؟ قال : يقول : قد دعوت وقد دعوت فلم أر يستجاب لي فيستحسر عند ذاك ويدع الدعاء.

Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“Akan terus dikabulkan doa seorang hamba, selama ia tidak berdoa untuk dosa atau memutus tali silaturahmi, dan tidak tergesa-gesa.”
Para sahabat bertanya: “Apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda:
“Ia berkata: ‘Aku telah berdoa… aku telah berdoa… namun aku belum melihat dikabulkan.’ Lalu ia pun merasa putus asa dan meninggalkan doa.”

3. Lakukan (doa) pada banyak waktu-waktu ini dengan : menghadirkan hati dalam berdoa
Ibnu Qoyyim mengatakan :

 وإذا اجتمع مع الدعاء حضور القلب وجميعته بكليّته على المطلوب ، وصادف وقتا من أوقات الإجابة الستة ، وهي : الثلث الأخير من اليل، وعند الأذان، وبين الأذان والإقامة، وأدبار الصلوات المكتوبات، وعند صعود الإمام يوم الجمعة على المنبر حتى تقضى الصلاة من ذلك اليوم، وآخر ساعة بعد العصر. وصادف خشوعا في القلب، وانكسارا بين يدي الرب، وذلا له وتضرعا ورقة، واستقبال الداعي القبلة ، وكان على طهارة، ورفع يديه إلى الله تعالى، وبدأ بحمد الله والثناء عليه، ثم ثنى بالصلاة على محمد عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم، ثم قدم بين يدي حاجته التوبة والاستغفار، ثم دخل على الله وألح عليه في المسألة، وتلقه ودعاه رغبة ورهبة، وتوسل إليه بأسمائه وصفاته وتوحيده، وقدم بين يدي دعائه صدقة، فإن هذا الدعاء لا يكاد يرد أبدا.

Dan apabila doa itu dilakukan dengan kehadiran hati, tumpuan jiwa sepenuhnya pada permohonan,
dan bertepatan pula dengan salah satu dari enam waktu mustajab:
1. Sepertiga malam terakhir,
2. Saat azan dikumandangkan,
3. Di antara azan dan iqamah,
4. Setelah shalat fardhu,
5. Saat khatib naik mimbar hingga shalat Jumat selesai,
6. Jam terakhir pada hari Jumat setelah Ashar.

Lalu doa itu disertai dengan :

  • kerendahan hati,
  • kekhusyukan,
  • penghambaan penuh dihadapan rabb,
  • dalam keadaan suci (berwudhu),
  • mengangkat tangan kepada Allah Ta’ala,
  • dimulai dengan pujian kepada Allah dan sanjungan terhadap-Nya,
  • lalu disusul dengan shalawat atas Nabi Muhammad ﷺ,
  • diawali dengan taubat serta istighfar,
  • kemudian menyampaikan kebutuhannya dengan penuh kesungguhan dan harapan,
  • serta takut dan gentar,
  • bertawassul dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah, dengan tawhid yang murni,
  • sebelum berdoa ia bersedekah

Maka doa seperti ini, hampir-hampir tak akan pernah tertolak

Berlalu dalam kisah-kisah salafus sholeh merasakan pengaruh yang besar dari doa ketika mereka melakukan hal-hal diatas, termasuk dalam kehidupan kami, wallahu ta’ala a’lam.

> Al faqiir ila rabbihi
> Abu Abdillah Ridho Handika Al Minangkabawi
> Hari Kamis : 30 Dzul hijjah 1446
> Desa Sayhut-Mahrah-Yaman Selatan

♻️ Free Share 📥 Download Poster

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA